Friday, July 3, 2009

(6) Little Miss Ego

Majalah Beauty itu masih tergeletak di meja kantorku. Sampulnya sudah lecek, juga halaman-halaman di dalamnya. Sudah beberapa hari ini aku melakukan self torturing, yaitu mencari-cari halaman yang dimaksud. Halaman yang memuat foto-foto mesra Sasya dengan Dewa di berbagai pesta-pesta sosialita Ibukota.

Rasa sakit setiap melihat foto-foto itu seperti candu buatku, karena aku melihatnya lagi dan lagi. Aku seperti menabur garam di atas luka yang masih basah. Ya, kegiatan tolol yang entah kenapa tak bisa berhenti aku lakukan. Apa yang ingin kulihat coba? Foto itu tidak akan pernah berubah. Dewa tetap di situ. Dewa tetap ada di sisi Sasya. Dan satu hal yang pasti, senyum Dewa tidak akan pernah berubah. Dia tidak akan menjadi cemberut setelah kulihat belasan kali. Dia akan selalu tersenyum, dia akan selalu terlihat sangat bahagia.

Sampai kapanpun juga.http://jeunglala.com/wp-includes/js/tinymce/plugins/wordpress/img/trans.gif

"Terus maumu apa, Jan?" tanya Yasmin setelah dia mengetahui kalau aku masih membolak-balik majalah itu dengan sebal. "Elo sendiri kan, yang mutusin Dewa?"

"Iya, Yasmin.. Iya..."

"Dewa berhak untuk moving on, kan?"

"Gue ngerti, Yasmin... Paham, gue paham..."

"Nah, sekarang gue tanya sama elo. Mau sampai kapan elo bolak-balik majalah kayak orang sinting gini?"

"I don't know, Yasmin."

"Nah, silahkan aja elo ngebuang waktu lo cuman untuk bolak-balik halaman majalah sampai bego," kata Yasmin dengan tegas. "Kalau elo emang masih segitunya sama Dewa, kenapa lo nggak bilang aja ke Dewa, sih? Ask him back,barangkali?"

"Dan gue menjilat ludah gue sendiri?"

Yasmin menggelengkan kepalanya. "Jani, Jani. Sepenting itu ya, harga diri elo buat ngaku ke Dewa kalau he still means the world to you?"

Kami berdua terdiam. Yasmin memandangi wajah gue seperti ahli yang sedang meneliti DNA. Wajahnya terlihat serius.

"The world's not just revolving under your feet, Jani. Kadang, elo harus mikirin orang lain bukan cuman diri elo sendiri...."

***

Dunia memang seolah bergerak di bawah kakiku sendiri. Tidak peduli dengan orang lain, aku hanya peduli pada diriku sendiri, pada perasaanku, pada masa depanku, pada kesakitanku.. Aku akan berbuat apapun caranya untuk menjaga diriku sendiri dari perasaan-perasaan yang tidak nyaman. Aku berbuat apapun caranya supaya aku bahagia, tanpa memedulikan orang lain.

Aku takut sakit hati, tapi aku melukai hati Dewa.
Aku takut ditinggalkan Dewa, tapi aku memilih untuk meninggalkannya.
Aku ingin merasa bahagia, tapi aku tak ingin melihat Dewa bahagia dengan orang lain.

Bukankah itu sama saja dengan egois namanya?

Harusnya aku tahu dan segera menyadari, kalau hidup ini bukan panggung Sandiwara dengan satu pelakon utama saja. Tapi, semua manusia yang hadir adalah para pelakon utama. Tidak ada pemeran pembantu, tidak ada figuran. Semuanya pelakon utama untuk panggung sebesar dunia ini. Jadi aku semestinya tidak boleh egois dan merasa besar kepala kalau aku-lah pusat dari segala perhatian di dunia!

Ah,

Jadi apa yang harus aku lakukan sekarang?

Menelepon Dewa dan mengucapkan "Selamat ya, Wa... Kamu jauh lebih bahagia sekarang..."

Atau,

Diam saja dan perlahan-lahan mencoba melupakan perasaanku buat Dewa sebelum benar-benar tulus mengucapkannya?

God! Aku butuh kopi sekarang! Tiga cangkir sekaligus!

(5) Single and Happy

Langit sedang mendung, pagi ini. Sendirian, aku berjalan keluar dari mobil menuju lift yang akan membawaku sampai ke lantai delapan belas, tempat kantorku bermukim. Hari memang masih terlalu pagi sehingga suasana masih sangat sunyi. Begitu sunyi, sehingga aku bahkan terganggu dengan bunyi ketukan hak stiletto sembilan sentiku sendiri.

Terlalu pagi datang di hari Sabtu yang dingin, tentunya bukan pekerjaan yang menyenangkan. Aku membayangkan tidur meringkuk di dalam selimut atau menonton televisi di ruang depan sambil mengunyah kacang rebus yang baru diangkat dari atas kompor, tentunya lebih nikmat ketimbang harus mengurus deadline untuk bulan ini.

Team kecilku akan mempresentasi final lay out untuk edisi bulan Juni yang akan tayang beberapa hari lagi. Edisi kali ini adalah tentang brides in style, sehingga isinya nggak jauh-jauh dari urusan baju pengantin, rias pengantin, katering, bridesmaid, persiapan mental menikah, betulkah dia adalah pasangan yang tepat, bagaimana menghadapi malam pertama, dan tentunya koleksi-koleksi baju pengantin, mulai dari pengantin Jawa Basahan sampai gaun cantik plus elegannya Vera Wang. Semua dikupas habis di edisi Juni nanti dan pagi ini aku musti menguatkan hati untuk nggak terlalu terbawa perasaan hanya karena aku sedang tidak mood untuk bicara soal cinta apalagi kawin-kawinan segala.http://jeunglala.com/wp-includes/js/tinymce/plugins/wordpress/img/trans.gif

Aku masuk ke dalam lift dengan agak tergesa. Meeting akan dimulai sepuluh menit lagi. Nggak enak kalau membuat orang lain menunggu. Oh, tentu saja karena aku tahu bagaimana capeknya kalau harus menunggu. Capek fisik, juga mental. Males.

Ketika pintu lift terbuka persis di lantai delapan belas, aku mendapati office boy, Pak Dadang, melemparkan senyumnya lalu berkata, "Eh, Mbak Anjani masuk kantor.. Saya kira libur..."

"Nggak kok, Pak. Pagi ini ada meeting. Mm, mereka sudah ada di ruangmeeting ya, Pak?" Aku celingukan melihat kantor yang masih sepi. Heran juga, padahal sepuluh menit lagi meeting akan segera dimulai.

"Oh, mereka sudah di dalam ruang meeting, Mbak."

"Ampun! Saya terlambat kalau gitu, Pak..." Aku segera berpamitan dengan Pak Dadang yang entah ngomong apa lagi sesaat setelah aku angkat kaki dari depannya. Samar-samar aku cuman mendengar kata-kata ini, "Ada kiriman buat Mbak Anjani..."

Entahlah, kiriman apa. Entahlah, dari siapa. Yang penting aku sekarang harus segera sampai di ruang meeting, minta maaf karena terlambat, dan segera mempersilahkan team untuk mempresentasikan final lay outnya supaya aku bisa cepat pulang ke apartemen, lalu melanjutkan ngorok sampai pagi lagi!

I am truly single now.

Sudah tak perlu lagi repot-repot menata rambut, memoles make up, dan memilih pakaian yang cantik untuk dikenakan untuk berkencan.

The game is over.

Tanpa terasa, sudah dua bulan ini, Dewa pun sudah mulai menghilang perlahan dari kehidupanku...

***

Meeting berjalan lebih alot daripada yang aku duga sebelumnya. Ada beberapa hal yang musti dibenahi sana-sini sebelum layak cetak dan dikirim ke penerbitan. Dasar moodku lagi jelek, dengan amat sangat terpaksa aku ngamuk-ngamuk seharian di ruang meeting hanya karena kesalahan kecil macam salah ketik (yang seharusnya bisa hanya sekedar diingatkan, bukan dimarah-marahin seperti orang salah menempel artikel di tempat yang tidak semestinya!).

Ya, harus aku akui, sejak jauh dari Dewa, aku kembali menjadi seorang Chief Editor yang galak. Sangat galak sampai-sampai team intiku bolak-balik mendapatkan omelan karena kesalahan kecil yang mereka lakukan. Tidak ada lagi senyum yang biasa menghiasi wajahku setiap pagi, seperti saat aku menerima telepon dari Dewa, membaca sms-sms mesranya, atau melihat Dewa datang ke ruangan saat menjemputku pulang kantor dengan pakaiantrademarknya; polo shirt with jeans.

Tidak ada lagi Anjani Paramitha yang berseri-seri dengan senyum tak pernah lepas dari bibir. Kini, yang ada adalah seorang Chief Editor galak yang seolah ingin makan orang!

Aku, sih, tak peduli dengan bisik-bisik orang sekantor yang mengatakan kalau aku kembali menjadi Anjani yang dulu. Aku tak peduli dengan kata-kata mereka tentang rasa kehilangan mereka pada sosok Anjani beberapa bulan yang lalu; sosok yang selalu tertawa, tersenyum, dan menganggap hidup adalah taman bermain, bukan ladang ranjau.

Kini aku kembali menjadi Anjani Paramitha; perempuan dengan karir cemerlang, punya nightlife yang okay, dan fokus pada diri sendiri.

Bukankah dari awal aku sudah menasbihkan diriku sendiri sebagai seorang lajang yang bahagia? Kenapa juga aku musti repot-repot jatuh cinta dan menyesakkan pikiranku sendiri dengan ketakutan-ketakutan itu? I am single and very happy... Ya, I am!

mereka bilang aku pemilih dan kesepian
terlalu keras menjalani hidup
beribu nasehat dan petuah yang diberikan
berharap hidupku bahagia...

aku baik baik saja
menikmati hidup yang aku punya
hidupku sangat sempurna
I’m single and very happy
mengejar mimpi mimpi indah
bebas lakukan yang aku suka
berteman dengan siapa saja
I’m single and very happy

(Single Happy, Oppie Andaresta)

**

Sekalipun aku tidak memiliki seorang kekasih, bukan berarti malam mingguku harus habis di depan televisi sambil menonton tayangan-tayangan film drama romantis bombay lalu nangis sendirian meratapi nasib, kan? Aku malah punya waktu ekstra untuk menyenangkan diri sendiri, tak perlu ribet mencocokkan jadwal dengan seorang pacar yang mendadak kangen, mendadak kepingin nonton bioskop, atau mendadak kepingin makan kepiting saos Padang di pinggir Ancol.

Ada beberapa hal yang sudah sekian lama aku tinggalkan sejak Dewa masuk ke dalam hidupku. Meluangkan waktu seharian di sebuah salon adalah salah satunya. Ya, aku nggak ingin membuat Dewa senewen karena harus menunggui aku luluran, creambath, pijet refleksi, meni-pedi, sampai mengecat rambut segala, kan? Bisa pusing dia kalau harus menunggui pacarnya kecentilan dan bisa pusing juga aku kalau harus menunggui dia mengutak-atik mobil kesayangannya di bengkel sebagai kompensasi.

Sekarang aku bisa bebas menikmati pijitan lembut Mbak Sekar di salon langganan sambil mendengarkan musik instrumentalia dari ponsel Sony Ericcson seri W, dengan sumpalan ear phone sampai mengantuk. Di tengah asyiknya menikmati pijitan sekaligus suara musik yang indah, mendadak teleponku berbunyi. Dengan mata masih setengah terpejam, aku melihat jelas nama Yasmin di layar ponsel.

Duh! Bebek Bawel satu ini memang selalu punya cara untuk bikin me-time-ku terganggu.

"Ade ape lagi, Yas?" sapaku.

"Elo sibuk nggak?" cerocosnya.

Dilulur, dipijit, dicreambath, meni-pedi, ngecat rambut, dan merapikan model rambut, termasuk sibuk, nggak, ya?

"Hm, gue lagi ada di salon langganan, nih. Mau whole treatment, mumpung sempet. Kenapa?"

"Gue pingin ketemu, sih, Jan.."

"Mau ngapain? Mau ngejodohin gue sama cowok lain lagi?"

"Ih! Gue udah kapok ngejodohin elo, Jan! Males ah, ntar ujung-ujungnya begitu lagi. Malu gue..."

"Aduh, maaf banget, ya, Yas. Elo tau gue, kan?"

"Yah, gue pikir lo bakal berubah sama Dewa. He's not a bad guy, nggak seperti cowok-cowok di masa lalu elo itu, Jani..."

Aku pikir aku juga akan berubah. Aku pikir, setelah Dewa memohon-mohon penjelasan padaku, setelah Dewa mengatakan kalau dia sunguh-sungguh mencintaiku, dan berjanji akan selalu menungguku untuk membuka pintu hati, aku akan berubah menjadi perempuan yang tidak philophobia. Tapi nyatanya? Sama saja. Dewa akhirnya berhenti berusaha setelah lima minggu penuh aku berhenti berkomunikasi dengannya. Well, semua orang memang punya batas kesabaran. Dan Dewa berhak tidak sabar lalu pergi dari aku.

"Okay, okay. Nggak usah ngomongin Dewa, deh. Ngomongin yang lain aja, Yas."

"Duh, justru tujuan gue nelepon elu, tuh, ada hubungannya sama Dewa, Jani..."

Mendadak aku deg-degan. Kenapa dengan Dewa? Sakit, kah? Gimana dengan radang tenggorokannya kemarin. Jangan-jangan kambuh! Aduh, lambungnya yang sering protes itu, jangan-jangan sekarang mulai berdemo lagi seperti demonstran di pinggir jalan. Pasti gara-gara makan pedas! Dasar anak bandel!

Ups! Barusan tadi aku ngomel apaan, sih?

"Dewa? Kamu mau cerita apa, sih, Yas? Dia sakit?"

"Nggak, nggak. Dia sih seger buger, tapi sempet stress gara-gara elo."

"Ngaco."

"Beneran, Bencong! Beneran!"

"Terus, sekarang elo mau cerita sama gue kalau dia stress berat gara-gara gue dan elo minta pertanggungjawaban dari gue, gitu?"

"Hiyah! Najiz, najiz!" solot Yasmin. "Gue nelepon elo, maksudnya, mau bilang aja, kalau gue kasihan sama Dewa..."

"Terus?"

"Ya, elo kan tau sendiri, Jan, gue pernah bilang apa tentang Dewa Prasetya?"

"Elo ngomong banyak soal Dewa, Yas. Gue sampai lupa saking bawelnya elo saat itu."

"Aduh, Jan. Kata-kata gue yang fenomenal itu, lho.. Soal Dewa is too good to be missed..."

"Hmm... "

"Terus gue bilang, kalau gue belum tunangan sama Marcel, gue bakal embat sendiri cowok seganteng dan sebaik Dewa..."

"Iya, iya, gue inget. Tapi apa hubungannya sama gue, Yas? Elo mau putus dari Marcel terus pacaran sama Dewa, gitu?"

"Giling, lo! Biar binal gini, gue cinta mati sama Marcel, Sinting!"

"Yah, gimana dong. I'm lost nih. Elo muter-muter kayak kucing nyari buntutnya, sih!"

"Hih. Bahasa elo!" solot Yasmin sekali lagi. "Gue sengaja muter-muter gini, karena gue nggak tahu musti gimana ngomong ini ke elo, Jan..."

OK. Sampai di situ, aku benar-benar khawatir kalau kalimat-kalimat yang bakal keluar dari mulut Yasmin akan membuat aku jantungan atau stroke mendadak. Aku kenal betul gaya Yasmin kalau sedang ingin menyampaikan sesuatu tapi dia nggak berani. Sumpah, aku takut.

"Yas, better tell me now. Apa hubungannya sama gue?"

Yasmin diam sebentar. Nggak biasanya cewek bawel ini kehilangan kata-kata seperti ini.

"Yas? Jangan bikin gue panik, ya? Ada apa? Cerita sama gue..."

Dead air.

"Yas?"

Masih dead air.

"Jangan bilang karena telepon elo dibayarin Marcel, ya, jadi elo seenaknya aja diem-dieman di telepon," kataku mencoba untuk melumerkan kebekuan, sekalipun hatiku deg-degan seperti orang takut ketauan mencontek UMPTN.

"Gue nggak tahu gimana musti ngomong ke elo, Jan."

"Ngomong aja, gih. Ngomong aja..."

"Janji, elo nggak marah?"

"Janji."

"Atau ntar aja deh, kalau elo sudah sampai rumah..."

"Yas, udah deh... cut the crap. Please, cerita aja. Gue nggak kenapa-kenapa, kok. Dewa udah lewat, Yas. Gue udah nggak peduli lagi sama Dewa. I've made my decision, remember? Gue nggak akan kenapa-kenapa, Yas..."

Aku mendengar Yasmin menghela nafasnya.

"Elo kenal Sasya, nggak?" tanyanya.

"Sasya? Yang mana?" Ada beberapa nama Sasya yang aku kenal. Sasya Kania, peragawati terkenal yang beberapa kali menjadi cover majalah Life! dan tampil di cover GayaBanget! untuk edisi kedua kemarin. Rachmania Sasya,editor di majalah remaja yang aku kenal di bursa buku. Dan satu lagi, Sasya Bawel, sekretaris pimred yang hobi memakai stocking jala-jala ala nelayan.

"Sasya Kania, dong."

"Oh, Sasya yang itu. Kenapa?"

"Gue kenalin Dewa ke Sasya, Jan."

"Hmm..." Hatiku makin deg-degan.

"Karena gue nggak tega aja ngeliat cowok sebaik Dewa ngejomblo di pasaran, akhirnya gue kenalin dia ke temen-temen gue, termasuk elo..."

"Hmm..."

"Elo sih, akhirnya mundur..."

"Hmm..."

"Akhirnya gue kenalin Dewa ke Sasya, sebulan yang lalu..."

"Lantas? Apa hubungannya sama gue?"

"Jelas ini ada hubungannya sama elo, Jani. Elo kan mantannya Dewa. Gimana, sih?"

"He eh, ngerti. Tapi Dewa kan bukan siapa-siapa gue lagi, Yasmin. He's now available, on the market. Gue nggak peduli..."

Seriously, eh?

"Dia berhak berkenalan sama ribuan perempuan dan jatuh cinta dengan semua orang itu..."

You're kidding, rite?

"Dia boleh memilih salah satu dari mereka untuk dikawin sekalian..."

Now, you're totally insane, Jani!

Yasmin menghela nafasnya. "Ya udah, deh. Gue seneng kalau elo baik-baik aja. Gue cuman nggak kepingin elo patah hati saat ngeliat foto Dewa dan Sasya muncul di beberapa majalah Ibukota. Lo tau kan, Sasya itu kondangnya kayak apa?"

"Iya, gue tahu."

"Nah, gue telepon ini, untuk ngecek kondisi elo sekarang, Boss.. Gue takut aja elo shock gara-gara majalah yang gue kasih waktu itu..."

"Majalah yang mana?"

"Majalah Beauty yang gue titipin office boy kantor elo itu, Say..."

Ups! Jadi itu yang dimaksud Pak Dadang kemarin pagi? Aku tidak sempat masuk ke ruanganku karena usai meeting aku segera cabut pulang ke apartemen untuk menuntaskan kantukku.

"Di situ ada foto-foto mesra Dewa dan Sasya di berbagai pesta sosialita gitu, deh. Sasya bangga banget bisa deket sama Dewa, Jan. Sumpah, gue nggak pernah ngeliat dia sebahagia itu..."

Aku diam. Tiba-tiba kata-kataku mendadak lenyap saat hendak melewati tenggorokan. Aku hanya bisa bertanya, "Kalau Dewa, Yas? Dia gimana?"

"Hm, just check the magz and see for yourself, Jani."

"Yasmin, please... Tell me. Did he look that happy?"

"Jan..."

"Did he?" potongku.

Yasmin terdiam sejenak. "Iya, Jani. Dewa terlihat bahagia..."

Aku tahu, aku menikmati status lajangku dengan berbuat apa yang aku suka. Menikmati waktu dengan bersenang-senang dan memanjakan diri sendiri. Menraktir diriku sendiri dengan hermes bags yang mahalnya selangit. Memanjakan tubuh dengan perawatan total dari ujung folikel rambut sampai jempol kaki. Dugem semalam suntuk atau ngorok sepanjang hari.

Aku merasa sangat bahagia dengan kesendirianku.

I am single and very happy.

Tapi itu dulu.

Ya. Dulu.

Tepatnya, sebelum aku mengetahui kalau Dewa ternyata tetap bahagia, tanpa aku di sampingnya...

(4) Philophobia

Ada sebuah coffee shop di lobby gedung perkantoran tempat majalahku bernaung yang menjadi tempat favoritku dan Yasmin saat sedang suntuk, ingin memuaskan nafsu kafein, atau sekedar iseng ingin cerita-cerita. Kopi di coffee shop ini tidak sefantastis Starbucks, memang. Boleh dibilang, dengan harga satu cangkirnya yang mencapai lima puluh ribu, rasanya tidak sebanding dengan selembar uang yang kukeluarkan dari dompet. Tapi, harus diakui, posisinya yang strategis, tinggal satu kali naik lift dan meluncur sampai ke lantai lower ground, membuat aku jatuh cinta dengan coffee shop yang satu ini.http://jeunglala.com/wp-includes/js/tinymce/plugins/wordpress/img/trans.gif

Dan di coffee shop inilah sekarang aku sedang duduk di sebuah sofa empuk, persis di pojokan, ditemani dengan dua cangkir kopi, selusin puntung rokok, dan seorang sahabat yang sesiangan ini bawelnya kambuh. Ya, aku ditemani Yasmin yang baru saja selesai pemotretan di kantorku.

"Gue nggak ngerti gimana jalan pikiran elo, Jan," kata Yasmin sambil berkali-kali menghisap rokoknya. Entah sudah puntung ke berapa, tapi asbak di meja kami sudah tampak penuh.

"Gue aja nggak ngerti, apa lagi elo, Yas," kataku sambil mencoba menghilangkan resah dengan menyesap larutan kopi berkali-kali.

"Elo itu sinting, Jan. Cowok sebaik Dewa masih aja lo curigain kayak maling ayam." Yasmin menekan ujung rokoknya yang sudah tinggal seperempat.

"Yas, gue sih nggak pernah punya maksud kayak gitu.."

"Terus, maksud elo apa, coba? Dengan bilang sama Dewa kalau elo kepingin sendiri aja, elo nggak bermaksud untuk nganggep dia kayak maling ayam yang nggak bertanggung jawab. Gitu?" Suara Yasmin yang meninggi membuat beberapa pasang mata segera menatap ke arah kami berdua. Okay, I don't wanna make a scene in my favorite place.

"Jangan ngajak berantem di sini, ah, Yas. Gue masih kepingin dateng ke sini besok-besok," kataku pelan.

"Abis gue sebel sama elo, Jan."

"Karena elo udah susah payah ngenalin Dewa ke gue, gitu?"

"Bukan cuman karena itu lagi, Jan. Gue nggak sedangkal itu. Gue tuh cumanmatchmaker, ngenalin kalian berdua. Urusan kalian ntar jodoh atau nggak, bukan urusan gue," kata Yasmin. "Gue sebel, karena alesan lo nggak pernah berubah dari dulu."

"Maksud lo?"

"Ah, udah deh, Jan. Sudah berapa cowok yang gue kenalin musti lo tinggalin cuman karena elo takut kalau mereka bakal sama aja kayak Farid? Sudah berapa kali elo pakai kalimat itu buat mantra penangkal cowok-cowok untuk ngedeketin elo?"

Aku terdiam. Yasmin sudah tahu luar dalam seorang Anjani. Dia benar, aku selalu menganggap semua lelaki akan sama saja seperti Farid; seorang mantan kekasih yang hampir saja aku nikahi kalau saja dia tidak ketahuan selingkuh dengan mantan pacarnya. Farid meninggalkan aku tepat ketika aku tidak ingin menjalani sisa hidupku dengan siapapun juga, kecuali dengan Farid saja. Tapi, Farid angkat kaki dari hidupku sejak dua tahun yang lalu, menyisakan luka dan trauma sampai hari ini.

"Pengalaman elo sama Farid itu boleh banget bikin elo berhati-hati, Jani. Tapi, kalau sampai bikin elo nggak bisa melangkah ke depan sama orang lain, yang jelas-jelas bukan lelaki brengsek macam Farid, itu artinya elo udah nggak waras."

Silahkan, Yas. Silahkan. Keluarkan semua kata-kata elo.

"Elo tuh philophobia. Nyadar nggak, lo?"

**

Takut jatuh cinta.

Kata Yasmin, aku philophobia alias fobia terhadap cinta. Kata Yasmin, setiap cinta mendekatiku, aku malah mengambil langkah seribu lalu berlari dari situ. Kata Yasmin, aku tidak akan bisa melangkah ke depan kecuali aku menginginkannya. Kata Yasmin, dia kecewa padaku.

Ah, Yasmin. Tidakkah kamu tahu kalau aku juga sangat kecewa pada diriku? Pada seorang Anjani Paramitha yang berkata pada Dewa Prasetya kalau aku sedang ingin sendiri dulu lalu menatap kedua bola matanya yang membelalak tak percaya dengan pendengarannya, beberapa hari yang lalu?

"Beib, kenapa tiba-tiba?" Dewa memandangku tak percaya. Mencoba memastikan kalau ia tak perlu datang ke dokter THT dengan memandang kedua biji mataku dalam-dalam.

"Nggak ada apa-apa, Sayang. Nggak ada apa-apa, kok..."

"Ah, nggak mungkin kalau nggak ada kenapa-kenapa. Pasti ada triggernya, kan?" Dewa masih mencoba untuk mencari jawaban di biji mataku. Aku sampai tak kuasa memandangnya lalu mengalihkan pandangan ke arah lain.

Dewa, Dewa. Dewa Prasetya.

Apa aku harus bilang terus terang sama kamu, kalau justru saking cintanya aku padamu, sampai-sampai aku ketakutan seperti ini? Bisakah kamu percaya, kalau rasa cinta yang sedang merajai setiap sel dalam tubuhku, adalah satu alasan paling nyata mengapa aku ingin sendiri saja?

Aku takut jatuh cinta padamu, Dewa Prasetya.

Aku takut, kelak, kamu meninggalkan aku tepat ketika kamu adalah udara untuk setiap nafasku, sehingga aku megap-megap tak bisa bernafas karena kehilanganmu...

**

If you can't promise me to stay with me forever,
Then I can't promise you to let you stay here, Beib..
I am really that pathetic, aren't I?

(3) Sebuah Skenario

Namaku Anjani. Perempuan lajang usia dua puluh sembilan yang menganggap dengan ge-ernya kalau dia terlahir menjadi seorang penulis.

Menulis adalah passion terbesarku sehingga menjadi seorang penulis telah menempati urutan pertama dari beberapa prioritas hidupku. Aku selalu menempatkan pekerjaan di atas segalanya, diikuti oleh Ayah, kedua kakak, serta keponakan-keponakan tercinta, lalu kawan-kawan baikku (termasuk Yasmin yang bawel), serta financial security. Yang paling bontot, tentu saja keinginanku untuk menjadi istri seorang lelaki yang aku cintai. Ya, keinginan yang terus melorot ke bawah dari daftar prioritas hidupku, dari waktu ke waktu.http://jeunglala.com/wp-includes/js/tinymce/plugins/wordpress/img/trans.gif

Sebetulnya aku nggak ingin menikah. Hidupku sudah cukup lengkap dengan apa yang kumiliki sekarang. Aku tidak muluk-muluk dengan menginginkan semuanya tercakup dalam satu bentangan pelukan. Kupikir, menikah baru akan kupikirkan nanti-nanti saja. Yang pasti, tidak sekarang. Tidak ketika aku sedang pusing-pusingnya merawat bayi kecilku yang harus kuajari bagaimana cara merangkak naik dan bisa bergaul di pasaran media. Sainganku tidak sedikit; majalah Dewi dan Bazaar adalah dua pesaing utama yang membuatku deg-degan setiap bulannya. Aku harus memeras otakku setiap hari supaya bayiku cepat tumbuh dan bisa kutinggal-tinggal.

Tapi, ya. Hidup tidak seperti skenario film yang terkadang harus mengikuti keinginan para pemain film-nya yang tidak mau ini itu, yang mau ini itu, dan sebaiknya begini begitu.

Hidup adalah skenario yang sifatnya mutlak harus dijalani, tanpa kecuali. Tanpa negosiasi. Tak menunggu mau atau tidak mau, kamera itu tetap merekam dengan gulungan pita yang tak terukur panjangnya. Just act and do your best.

Itulah yang kini aku rasakan, yang kini sedang coba aku jalani.

Tepat ketika aku sedang tak ingin jatuh cinta, seorang Dewa datang mengetuk pintu dan membuatku tak bisa merasakan apa-apa, kecuali satu. Iya. Namanya bahagia...

***

Mendadak bunyi dering ponsel menjadi sesuatu yang paling kutunggui setiap hari. Biasanya, aku malas sekali mengangkat telepon karena tidak ingin konsentrasiku buyar saat menulis. Tapi sejak Dewa semakin rajin meneleponku dan mengirimiku SMS, MMS, dan e-mails, aku menjadi seperti anak umur belasan tahun yang sedang menunggu telepon lalu terlonjak dari sofa saat ponselnya berbunyi.

Dewa biasa membangunkan aku setiap pagi, menjelang sholat Subuh. Dia cuman bilang, "Udah bangun, Beib.. Sholat dulu gih..."

Lalu beberapa jam berikutnya, sesaat setelah aku sampai di kantor, Dewa mengirim sebuah SMS yang isinya singkat saja: "Sudah di kantor, ya? Jangan lupa sarapan. Ini aku masih otw ke kantor..."

Menjelang jam makan siang, seringkali dia menjemputku untuk mengajak makan siang bareng.

Pulangnya? Oh, hampir setiap hari dia datang ke apartemen, sekedar untuk nonton teve kabel atau makan malam di rumah dengan masakan yang sudah dia beli sebelum sampai ke apartemenku.

Dewa baru pulang di atas pukul sepuluh malam. Sejam berikutnya, dia meneleponku cuman untuk mengabari kalau dia sudah sampai di rumahnya, lalu bilang, "Makasih buat malam ini, ya, Beib. Can't wait to see you again tomorrow..."

Dua puluh empat jam sehari.

Tujuh hari dalam seminggu.

Sebanyak itulah waktu yang telah kupersembahkan untuk Dewa. Aku tahu, pekerjaanku tetap nomor satu. Aku tahu, menjadi chief editor dari sebuah majalah yang masih edar tiga kali itu memiliki tanggung jawab yang tidak sedikit. Aku memahami betul kalau aku tidak boleh melupakan tanggung jawabku itu dengan terlalu banyak meluangkan waktu buat Dewa, lelaki yang baru kukenal tiga bulan yang lalu, hasil percomblangan sahabatku, Alodya Yasmin.

Tapi entahlah.

Kalau tadinya aku begitu peduli dengan karir yang sudah kubangun sedemikian rupa, dengan susah payah, musti berjuang ke sana sini demi mendapatkan credit di dunia media, kini aku tak lagi ngotot, ngoyo, dan merasa hidupku menjadi jauh lebih tenang.

Ya.

Sejak kehadiran Dewa dalam kehidupanku, aku tertawa sendiri dengan skenario yang sudah kubuat sejak dua tahun yang lalu. Sejak Farid memutuskan hubungan, aku telah menciptakan sebuah Maha Skenario yang tidak melibatkan cerita romansa di sana. Di situ hanya ada mimpi-mimpi tentang membahagiakan keluarga, teman-teman, dan memperoleh pekerjaan impian.

Dan memang, aku cuman penulis skenario amatiran yang musti tunduk pada Sutradara yang Maha Kuasa membolak-balikkan rencana dan hati manusia.

Karena sejak Dewa mengisi tiga bulan terakhir dalam hidupku, tiba-tiba, keinginan menikah meroket naik ke puncak klasemen sementara dalam daftar prioritas hidup saat ini.

Oh Tuhan.

I don't even know him. Not much.

Aku takut kalau Dewa adalah seorang Farid dalam kemasan yang berbeda...


(2) Care to Try?

Tepat seperti yang sudah kubayangkan sebelumnya, Yasmin segera berteriak histeris seperti orang gila ketika besoknya aku membocorkan acara kencanku dengan Dewa Prasetya, lelaki yang ternyata tidak hanya ganteng, berhidung tinggi, dan berperilakugentle, tapi juga teman bicara yang menyenangkan. Okay. Tidak menyenangkan, sih, tapi.... SANGAT menyenangkan!

"Jadi sekarang Dewa ada sama elo, Jan?" tanyanya girang.

"Lebih tepatnya, gue lagi ijin ke toilet dan Dewa lagi nungguin di Sushi Tei..."

"Sushi Tei mana, Jan? Gue boleh gabung, nggak?"

"Edan, lu. Tugas makcomblang cuman ngenalin doang, nggak pake ikutan ngerecokin kencan!"

"Aih, aih! Jadi ini kencan, nih?"

"Ah, bawel lo," kataku. "Doain aja bakal ada kencan-kencan berikutnya, ya, Yas?"

"Duh, duh, my darleneeee... Gue bakal selametan, tumpengan, bikin bubur merah-putih, sekaligus bakar kemenyan deh, asal elo bisa jadian sama Dewa!"http://jeunglala.com/wp-includes/js/tinymce/plugins/wordpress/img/trans.gif

Aku tertawa. Selain hidung jambu airnya yang aduhai itu, salah satu ciri khas yang lain dari seorang Alodya Yasmin adalah kalimat-kalimatnya yang hiperbolis. Uh, yeah. Dia bisa bilang, "Edan, bodi gue gendut banget, sih!" Padahal, bobot tubuhnya cuman 48 kilo dengan tubuh menjulang sampai 175 senti. Atau, "Gila! Rambut gue mekar banget kayak rambut Megaloman disasak!" padahal sih, rambutnya biasa-biasa aja...

Tapi aku tahu, Yasmin adalah sahabat yang baik. Buktinya, dia care banget sama aku yang masih menjomblo dengan sangat bahagia padahal usiaku sudah menjelang tiga puluh.

"Ntar sore gue mo gangguin Dewa, ah."

"Gangguin gimana?"

"Ya, gue pengen tahu aja gimana kesan-kesan Dewa ke elo, kaleeeee... Harus dari dua sisi, Boss.. Biar kita tahu di mana letak kesalahan kencan elo.."

"Haha. Whatever deh. Silahkan jadi detektif, Yas. Ntar hasil investigasinya kita bicarain sambil makan malem di apartemen. How?"

"Masakin, ya, Jan..."

"He eh."

"Lasagna, masterpiece elo itu..."

"Iya, Yas..."

"Tapi dagingnya jangan yang berlemak, ya, Yas... Kejunya yang low fat... Susunya juga jangan yang full cream.. Terus, terus..."

"Heh! Fotomodel ganjen! Denger ya, ntar gue bakal bikinin elo lasagna yang enak banget, pake keju tebel, susu full cream, daging yang banyak lemaknya, dan ya, gue bikin dalam porsi yang TEBEL BANGET! Mau, nggak?"

"Mau, deh..."

Aku tertawa. "Elo itu gila, tau nggak?"

"Tapi elo nggak bisa hidup tanpa gue. Elo tau nggak?"

Yasmin adalah orang terdekat dalam hidupku, dalam tujuh tahun belakangan ini. Dia yang pertama kali menjadi teman satu kost ketika aku mengadu peruntungan di ibukota. Dia yang pertama kali bilang kalau tulisan-tulisanku harusnya segera menghias majalah-majalah terkenal keluaran penerbit kenamaan. Dia juga yang pertama kali mengenalkan aku pada Ibu Dewiyani, pemilik majalah LIFE! yang akhirnya memercayakan aku menangani GayaBanget!. Sejak saat itulah, hidupku berubah.

Oh, Yasmin tidak hanya mengubah hidupku menjadi seorang pemimpin redaksi sebuah majalah yang baru saja launching kemarin. Tapi dia juga telah mengubah hidupku menjadi jauh lebih berwarna.

Iya. Berwarna.

Dengan kehadiran sosok bawelnya yang membuat aku ingin bersumpah, "Amit-amit kalau kelak punya anak seperti Yasmin..."

Juga karena kehadiran seorang Dewa, lelaki yang dia kenalkan, persis ketika aku menikmati hidupku sebagai lajang yang seolah memiliki segalanya.

Aku punya apartemen, mobil mewah, pekerjaan yang luar biasa, dan teman-teman yang sangat menyenangkan. Aku memiliki semua yang diinginkan oleh gadis manapun di kampusku dulu, tapi sejak aku mengenal Dewa, aku tahu, hidupku tidak akan lengkap tanpa dia...

***

Kamu pernah dengar ungkapan ini: "Time really flies whenever you're around someone you like so much"?

Yang bila diterjemahkan secara bebas, sebebasnya, adalah seperti ini: "Waktu berlalu sangat cepat saat kamu berada di dekat orang yang sangat kamu sukai"?

Oh, well. Sepertinya aku harus segera mencari tahu siapa sosok bijak yang sudah menemukan kalimat-kalimat secantik itu, supaya aku bisa bilang padanya, "Edan, Boss! Elu emang t0p banget, deh!" Ya, ya. Cuman karena akhirnya aku mengetahui, kalau waktu memang berlalu begitu cepat setiap saat aku melewatkan waktu berdua dengan Dewa Prasetya.

Seperti hari ini.

Aku sedang menikmati tayangan Sex and The City di ruang televisi, berdua dengan Dewa yang kini terlihat asyik menyeruput Nescafe Coffeemix favoritnya. Entah kenapa, setiap saat aku melihat Dewa, mendadak perasaanku hangat seketika. Apalagi saat Dewa menatap balik ke arahku lalu melemparkan senyum lembutnya. Duh, Tuhan! Bahan apa yang Kau gunakan untuk membuat Dewa sehingga tatapannya pun membuatkukecanduan?

"Kok blushing gitu, sih, Jan?" Dewa menggodaku.

"Mana? Mana yang blushing?" aku mengelak. "Ini make up, kali..."

Dewa menyentuh pipiku dan mencubitnya pelan. Oh Tuhan, Tuhan, TUHAN. Aku bisa mencari alasan kenapa pipiku mendadak merah, tapi bagaimana aku bisa bilang ke Dewa soal detak jantung yang mendadak mirip konser dangdut ini? Iya. Dengan speaker yang disetel paling kencang!

"Kamu tuh cantik, ya, Jan?" kata Dewa tiba-tiba.

"Ha?" OK. Aku bukannya budek atau apa. Aku cuman kaget. Dan ya, aku juga ingin mendengarkan kalimat itu sekali lagi :)

"Kamu CANTIK," ulang Dewa sambil menyentuh lembut kedua pipiku. "Kamu juga baik banget. Ah, aku heran sama lelaki-lelaki yang tega ngelukain kamu, Jan."

Sebentar, sebentar.

Dia heran dengan lelaki-lelaki yang tega melukai hati aku? Dia heran. Dengan lelaki-lelaki. Yang tega. Melukai hati aku.

Emang aku pernah cerita? Setahuku, biarpun sudah dua mingguan ini aku dekat dengan Dewa, makan siang bareng, kadang bertemu untuk sarapan bubur ayam di dekat kantor, atau bilang, "Ntar aku jemput kamu aja, ya, Jan? Kamu nggak usah bawa mobil ke kantor, ya?" Lalu kami pulang bareng dan beberapa kali mampir ke warung-warung tenda yang murah meriah tapi rasanya nendang banget itu... aku tidak pernah cerita soal lelaki-lelaki yang bikin aku malas jatuh cinta. Aku nggak ingin dianggap lemah oleh siapapun, termasuk Dewa Prasetya yang selalu berhasil membuat hatiku meleleh ini.

"Aku tahu dari Yasmin, Jan..."

Gotcha! Harusnya aku nggak perlu seribet itu berpikir dari mana Dewa tahu soal lelaki-lelaki yang nyebelin itu. Siapa lagi tersangka utamanya kalau bukan Yasmin, the matchmaker yang bakal melakukan apapun caranya supaya aku dan Dewa jadian itu?

"Dia bilang apa aja, sih, Wa?"

"Nggak banyak, sih, Jan... Cuman bilang, kamu terlalu sayang untuk dilewatkan."

Dewa is too good to be missed, Jan... Huh! Kata-katanya nggak kreatif!

"Yasmin juga bilang hal yang sama soal kamu, Wa."

"Oh, ya?"

Aku mengangguk sambil membayangkan betapa bawelnya Yasmin kalau aku tahu aku bilang sama Dewa soal kalimatnya yang satu ini: "Kalau gue belum tunangan sama Marcel, nih... Udah gue embat sendiri, Boss...!" Aku masih ingin menciptakan world peace. Bikin Yasmin makin cerewet akan menjauhkanku dari usaha yang mulia tadi.

"Jadi?"

"Jadi, apa?"

"Care to try?"

"Ha?" Yap. Kali ini aku bener-bener kaget.

"Mau dicoba, nggak?"

Hey. Aku mengerti benar bahasa Inggris, nggak usah pakai diterjemahkan segala seperti menerangkan anak SD yang nggak ngerti Bahasa Inggris. Aku tuh, kaget, tauuuu...

"Apanya?" Ya, goblogku mirip anak SD yang tinggal kelas..

"Kamu. Aku. KITA."

"Kita? KITA, Wa? Maksudmu, Wa? Aku nggak ngerti..."

Tanpa banyak bicara, Dewa mendekatkan wajahnya persis di dekat wajahku dan mendaratkan kecupannya persis di ujung hidungku. Bau mulutnya yang berpadu antara kafein dan nikotin itu menusuk masuk ke hidungku dengan leluasa. Aku tak bisa berkata apa-apa. Hell, aku bahkan hampir lupa caranya bernafas!

"Aku suka kamu, Anjani. I think I want to know you more..."

Tuhan. Kalau saja aku punya universal remote control seperti di film Click!, saat ini juga aku ingin menekan tombol pause supaya aku punya waktu untuk menenangkan jantungku yang sekarang sedang bermain trampolin di dalam sana...

(1) Dewa Prasetya

Kamu kenal dengan lelakiku?

Si pemilik wajah bulat dengan dagu belah dengan kedua lesung pipit yang nampak jelas setiap bibirnya tersenyum itu? Dengan jenggot yang seringkali tak tercukur rapi karena deadline kerjaan yang hampir-hampir membuatnya sering lupa makan itu? Dengan rambut pendek yang harus seringkali dipotong karena membuat model rambutnya menjadi tak jelas, seiring kemana angin berhembus itu? Iya. Lelaki dengan hidung tinggi dan kedua biji mata yang bercahaya sekalipun seharian memandangi layar monitor di kantornya itu?

Kamu kenal dengan lelakiku?

Lelaki yang pernah berkoar-koar pada dunia kalau dia mencintaiku dan berharap aku menjadi pelabuhan terakhir untuk biduk cintanya. Lelaki yang memujaku seolah aku adalah Bidadari dan dia amat sangat beruntung telah memiliki seseorang seperti aku. Lelaki yang membuat hati meleleh seperti es krim terpanggang sinar matahari kala terik-teriknya. Lelaki yang dalam diamnya selalu membisikkan namaku lalu tersenyum setelahnya.

Ya.

Kalau kamu belum kenal dengan lelakiku, mari kukenalkan kamu padanya. Pada seorang lelaki yang telah merebut seluruh hati dan pemikiranku setiap saat aku bersama. Pada seorang lelaki yang bahkan saat aku bersamanya, aku masih merindukannya.

Namanya Dewa.

Dan ini adalah cerita tentang dia.

***

Aku mengenal Dewa dari sahabatku, Yasmin. Foto model laris manis itulah yang memperkenalkan Dewa padaku ketika kami berdua datang ke sebuah pesta peluncuran majalah GayaBanget!, majalah Fashion terbaru di mana aku menjadi salah satu dari jajaran chief editor.

Sejak aku masih menunggu Mas Dani, hair stylist langgananku, menata rambut pendekku, Yasmin sudah ribut-ribut supaya aku tidak terlambat.

"Bukannya masih sejam lagi?" tanyaku. Suara bising salon yang sedang ramai-ramainya itu membuat aku memilih untuk menyumpal kedua telingaku dengan ear phone. "Ngapain sih, keburu-buru? Gue yang kerja di sana aja nggak belingsatan mirip cacing kepanasan.."

Dari salon ke hotel Shangri-La hanya akan memakan waktu sekitar sepuluh menit. Sekalipun aku chief editor, bukan berarti aku musti ngeribetin Event Organizer dengan nyuruh ini itu, kan? Toh, ini sudah dihandle dengan panitia, jadi aku tinggal melenggang dengan cantiknya! With my stiletto and this backless little black dress, I will be drop dead gorgeous!

"Iya, gue tauuu... Gue cuman mau ngingetin aja, kalau ntar gue mau kenalin elu sama Dewa."

"Udah yang keseribu lima ratus tiga belas kali elo bilang gitu, Yas. Asli, gue nggak budek atau amnesia," kataku sebel.

"Hihi, sori.. sori.. Gue cuman nggak pingin lo ngelewatin kesempatan ini, Jani. Gue udah gerah aja ngeliat lo jomblo keliwat bahagia gini..."

"Sialan, lo.. Ya udah, tutup teleponnya. Gue nyampe di depan muka elo setengah jam lagi, okay?"

Setelah menutup telepon itu, aku hanya tersenyum-senyum sendiri mengingat betapa hebohnya Yasmin mempromosikan Dewa, manager marketing handal yang hobi main sepak bola itu. Aku sendiri tak pernah bertanya bagaimana ceritanya sampai-sampai Yasmin bisa mengenal Dewa. Kamu akan sama herannya seperti aku saat melihat koleksi kartu nama lelaki-lelaki ganteng yang ada di dalam dompet Mango-nya. Oh, yes, Babe, lengkap dengan foto mereka yang super duper yummy! Edan.

Untuk kesekiankalinya Yasmin bilang, "Gue nggak tahan liat elu jomblo, Jani. Nggak rela gue..."

Dan untuk kesekiankalinya, Yasmin menyodorkan banyak lelaki untuk dikenalkan padaku. For the sake of friendship, aku sih mau-mau saja. Mulai dari lelaki yang hobinya mengoleksi motor Ducati sampai mengoleksi miniatur action figure, semua pernah dicomblanginya. Dari yang straight, sampai yang homo, pernah juga. "Gue kirain dia straight, Jani.. Ternyatafeeling gue salah.." Haduh, Yas! Kok bisa-bisanya elu nggak bisa ngebedain mana yang homo mana yang nggak, lha dari kaos ketatnya dan gaya melambainya aja udah jelas-jelas gay, kok!

Sekalipun aku jomblo, aku tidak se-desperate itu sampai-sampai harus kawin sama homo, kan?

Dengan pilihan-pilihan lelaki ajaib yang dikenalkan Yasmin padaku setahun belakangan ini, aku jadi penasaran dengan yang namanya Dewa Prasetya ini. Karena tidak biasanya, Yasmin bilang, "Gue musuhan sama elo kalo sampai elo nggak mau ketemu sama Dewa, Jan.."

**

"Jadi gimana, gimana?"

Yasmin sudah meneleponku, beberapa menit setelah aku masuk ke dalam mobil, memasukkan kunci, dan mulai menghidupkan AC. Pesta sudah berakhir lima menit yang lalu dan kini aku sudah berada di dalam mobil untuk kemudian segera pulang ke apartemen.

"Sabar, dong, Neng..." kataku sambil mencari-cari remote MP3 playerku yang keselip entah kemana.

"Ayolah, Jan! Cakep, kan? Baik, kan? Karirnya okay, kan? Lo liat idungnya, nggak, sih? Gilaaaa.... I will kill to have his nose!"

Entah sejak kapan sahabatku bermetamorfosis menjadi bebek cerewet yang lupa dikasih makan sama pemiliknya, tapi yang jelas, kali ini, kadar kecerewatannya sudah di luar batas normal.

"Iya, Yasmin yang cantik. Dewa itu cakep. Dewa itu baik. Karir Dewa itu sempurna. Dan hidungnya, okay, sangat, sangat mancung, nggak kayak idung jambu aer elu."

"Yeee.. di situ letak daya tarik gue, kali, Jan," kata Yasmin sewot. Haha, dia memang paling sensitif kalau sudah urusan hidung. Sudah tahu juga kalau hidung jambu airnya membawa hoki dan membuatnya beda dibandingin fotomodel yang lain, kenapa juga dia masih sesensitif itu kalau aku goda?

"Udah, deh, Yas. Gue mo dengerin musik aja, ah, daripada dengerin elo ngomel-ngomel nggak jelas."

"Eeehh... tapi ntar dulu, Boossss," kata Yasmin. "Kalian udah tukeran kartu nama, kan?"

"Iya, lah."

"Sip, deh. Gue seneng dengerinnya. Keep me updated, ya, Jan.."

"Tenang, Boss. Gue update di status Facebook aja, gimana? Biar elo bisa mantengin status gue sewaktu-waktu?"

"Janiiiii!!! Gue serius!!! Dewa is to good to be missed, you know..."

"Ya, ya, ya. Udah, ah. Besok siang gue telepon elu, okay?"

"Jelek, lu!"

"Jelekan elu!"

Aku menutup telepon dari Yasmin sambil tertawa sendiri. Aku nggak bisa membayangkan bagaimana raut wajah Yasmin kalau besok siang aku menelpon Yasmin dari sebuah restoran masakan Jepang di sebuah Mal paling hip, dengan seorang lelaki ganteng yang beberapa saat yang lalu berkata, "Besok makan siang di Sushi Tei, yuk, Jan? Ada waktu, kan?"

Ya. Yasmin bakal pipis di celana kalau aku mengangguk saat Dewa mengajakku makan siang, besok! Kapan lagi melihat foto model kenamaan yang seksi berat seperti Yasmin sedang ngompol saat pemotretan, kan? Ah, ah, sepertinya akan sangat seru kalau aku menelepon Mas Erik, fotografer pemotretan besok, supaya sempat menangkap momen berharga itu! :)